2025, Pemerintah Gandeng Swasta Gunakan EBT 100% di Sumba Iconic Island

July 4, 2017 @ 7:06 am
Jakarta, EnergiToday-- Guna mengurangi pemakaian energi fosil yang semakin menipis persediaannya, untuk itu Pemerintah menggandeng pihak swasta terus menggenjot penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Melalui sebuah organisasi internasional pembangunan nirlaba non-pemerintah, berupaya mencarikan solusi ketersediaan EBT bagi masyarakat, organisasi tersebut yakni Hivos-Indonesia.

Melalui program Sumba Iconic Island, Pemerintah bersama swasta menargetkan penggunaan EBT 100% hingga 2025. Menurut, Sandra Winarsa, Project Manager Green Energy (Sumba Iconic Island), target Sumba Iconic Island sendiri menargetkan 100% penggunaan EBT di 2025.

Sandra menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Data Mineral (ESDM), program tersebut bukan hanya para stakeholder atau swasta melainkan Pemerintah juga ikut terlibat didalamnya. karena ini merupakan rencana Pemerintah yang ingin meningkatkan penggunaan EBT.

"Program tersebut merupakan program Pemerintah dalam meningkatkan rasio elektrifikasi hingga 2025 menggunakan EBT dan dengan satu tujuan bersama," ujarnya.

Namun, dirinya mengakui, ini masih jauh sekali dari target. Sebab, target penggunaan EBT sendiri 100% hingga 2025. Akan tetapi pada masa pemerintahan Menteri ESDM Sudirman Said memangkas target tersebut, dari 2025 menjadi 2020.

"Pada 2025, kami dan Pemerintah beserta investor akan meningkatkan rasio elektrifikasi menggunakan EBT, tidak lagi menggunakan fosil fuel ataupun oil and gas," tuturnya.

Hingga saat ini, pihaknya dan Pemerintah belum mengadakan kembali monitoring evaluation (MNI) secara menyeluruh, karena MNI sendiri akan ditingkatkan setiap tiga tahun sekali.

"Terakhir kita mengadakan MNI di 2015. Jadi, nanti pada 2018 kita adakan kembali monitoring evaluation. Di awal pada 2010, ketika program itu start rasio elektrifikasi di Sumba sekitar 24%. Namun pada 2015 lalu, kita lakukan monitoring evaluation secara keseluruhan, baik semua program yang dibangun oleh Pemerintah, swasta, maupun LSM dan lainnya, rasio elektrifikasi naik menjadi 37%," katanya.

Sementara itu, tambahnya, pada tahun 2010 penggunaan EBT di wilayah tersebut masih berkisar 4-5%, lalu pada 2015 penggunaan EBT naik menjadi 12%.

Namun setelah 2015, lanjutnya, pihaknya belum mengadakan monitoring evaluation kembali. Sebab menurutnya, hal itu bukan pekerjaan yang mudah, murah dan cepat, melainkan itu merupakan pekerjaan yang cukup menyulitkan.

"Kita harus melakukan monitoring evaluation secara keseluruhan dari ujung pulau ke ujung pulau lagi, untuk itu kita berencana pada 2018 akan mengadakan kembali monitoring evaluation," pungkasnya. (un)

Beri komentar

Email anda tidak akan ditampilkan
*) Wajib diisi